Trending topic politik pilpres di Twitter, seminggu ini agak aneh.
Kamu tidak pakai Twitter? Tidak peduli dengan rumor dan issue di Twitter? Tidak masalah. Saya hanya mau bercerita.
Seminggu ini, trending topic Calon A mengawal “hashtag ini” dengan jumlah 16K. Pernah juga 24K. Para pendukung bersorak, seperti dapat “kekuatan api” di film
Avatar.
Penasaran, benarkah trending topic ini menunjukkan Calon A memang menjadi perbincangan?
Spoiler: Tidak.
Cara Memeriksa Trending Topic di Twitter
Periksa dulu, benarkah trending topic yang sedang kamu buka di Twitter, benar-benar mendukung Calon A?
Lihat cara saya memdeteksi kepalsuan trending topic politik Indonesia minggu
kemarin.
Saya klik dan scroll sampai sangat panjang.
- Banyak akun “Open BO” (sungguh, kata “open bo” itu abused sekali) yang ikut memakai “hashtag ini”, untuk numpang tenar.
- Yang aneh ini: rata-rata dapat 187-2K view. Banyak? Sangat sedikit, kalau dibandingkan dengan jumlah follower masing-masing capres.
- Banyak content dengan desain hampir mirip (kalau kita lihat dari tipografi dan caption di dalam image/video).
- Ekspresi di tweet mereka juga hampir sama.
- Retweet tidak banyak, rata-rata di bawah 20.
- Tweet dengan “hashtag ini” dari Calon A, banyak disanggah para pendukung Calon B.
Sayang sekali, saya harus secara manual menghitung sentimen positif dan negarif, secara “manual” (tidak pakai API dari Twitter) dan pakai “random sampling”, memakai
Python.
Memang, itu trending topic, namun bukan berarti Calon A menguasai perbincangan di Twitter. Tidak sama sekali.
Untuk kasus sama, kamu bisa pakai metode membaca trending topic dibatas.
Misteri Ombak Dukungan Naik-Turun dengan Cepat
Rumor yang beredar, pasukan Calon B sengaja bikin lawan mereka muncul di trending topic, untuk melihat reaksi pendukung Calon B. Ini rumor, bukan teori konspirasi. Jangan heran, kalau kemarin trending, besoknya sudah “hilang”. Naik-turun seperti ombak yang sedang dicek. : )
Melihat keadaan “hashtag ini” yang diusung Calon A, yang seolah-olah ngehit itu, saya semakin memastikan bahwa ini trending topic yang terencana (minimal lewat komunikasi telepon atau rapat tertutup) tetapi nggak berkualitas. Besoknya, ada trending topic baru, dari Calon B yang berseberangan, dengan “hashtag lain”.
Lebih beragam, desain berbeda, dan tidak terlalu berapi-api. Damai. Dan tidak ada berita kalau di media sosial Calon B mendapat dukungan. Mereka tenang. Lebih banyak relawan yang bekerja di luar media sosial, yang lebih nyata.
Bisa jadi, Calon B sengaja bikin trending topic agar Calon A tampak ngehit, kemudian dibalik dengan cepat. Ini hanya dugaan, namun bisa kita lihat dengan cara yang saya sampaikan di atas.
Kampanye Nggak Kelas Nasional
Saya menjadi penonton, memilih diam. Sayalah korban dari kampanye buruk di Twitter.
Karena saya harus menonton pertarungan yang nggak level nasional. Bagaimana bisa disebut level nasional, kalau isinya asumsi, saling serang, terutama mengumbar rekam jejak dan link yang cocok dengan mereka. Begitulah “post-truth”. Yang diomongkan.? Prestasi. Peluang. Dukungan ABCD. Fakta yang seolah-olah bukti. Hasil survei. Foto konsolidasi.
Perhatian ke Profil, Bukan Indonesia Masa Depan
Kenapa sih, nggak bicara Indonesia ke depan? Ayo, kita satu bangsa. Kita bicara Indonesia ke depan. Indonesia sebaiknya berubah seperti apa, mari bicara. Begitu satu nama disebutkan, yang tidak mereka suka, mimpi-bersama tentang Indonesia ke depan tadi, musnah seketika, berganti dengan pertikaian.
Mempertanyakan Etika Media Sosial
Pandangan kita tentang pelecehan dan kata-kata kasar, sudah menurun ketika sudah menjatuhkan pilihan.
Etika teknologi termasuk masalah berat di tengah masyarakat. Kita sering melihat “pelecehan” (harrassement) terjadi.
Kata-kata yang semula tabu — menjadi wajar ketika itu diucapkan seniman panggung atau para pemain Mobile Legends, bahkan dibela sebagai kebebasan berekspresi atau semiotika kultural. Susah membedakan fetisisme dengan iklan. Kekerasan simbolik terjadi di mana-mana. Bullying. Ada yang serius, ada yang just for fun.
Tekanan Publik Demi Kepentingan Calon Mereka
Fenomena kemarahan sedang terjadi. Tombol “Laporkan” sering diklik. Kecaman untuk “selesaikan masalah ini” berubah menjadi solidaritas demi tercapainya tujuan calon mereka.
Masyarakat, dengan gerakan, semacam Change.org, yang mekanismenya mirip mengumpulkan tanda-tangan masal (atau spam?), memiliki semacam kekuasaan untuk manifesto, pernyataan sikap, melaporkan, dan meminta suatu konten di-take-down. Tombol “laporkan” menjadi kesukaan.
Mari kita lihat kasus di mana publik menginginkan suatu website yang dianggap melakukan pelecehan, ditutup dan dihapus dari Internet. CloudFlare, yang populer menjadi ISP “pelindung” dari website, yang kita kenal sebagai Warp 1.1.1.1, pernah kena tekanan dan diminta memutuskan koneksi dengan situs yang dianggap melegalkan pelecehan terhadap kaum transgender. Pelecehan yang dianggap benar di suatu platform, bukanlah pekerjaan seseorang. Pelecehan seperti ini selalu berjejaring.
Kekerasan Simbolik dalam Jejaring
Ada banyak kekerasan simbolik di jejaring. Mungkin kamu pasukan suka rela yang tidak menyadari terjadinya kekerasan simbolik di media. Mau lihat contoh? Buka Twitter, lihat salah satu kebencian yang sedang berlangsung sebagai trending topic.
Tidak perlu lihat di mana biasnya. Lihat saja cara mereka menjatuhkan lawan, menghujat, bikin meme, dan menebar asumsi. Itu sudah jelas kekerasan. Mereka sedang memperkeras gema, dengan suara sama, mengecam lawan. Mereka ini berjejaring. Sengaja memakai platform untuk berantem. Tidak sendirian. Memang tidak terkonsentrasi seperti website judi yang sering ganti server.
Setidaknya, dari media sosial semacam Twitter dan Facebook, kita miris melihat pelaku kekerasan berprasangka buruk.
Dilema Penyelesaian Kekerasan
Yang terjadi, orang mencari siapa yang bisa menyelesaikan ini.
Negara? Aparat negara? Menanti terjadi efek jera? Mengharap perubahan terjadi? Kalau negara melindungi “privasi data”, maka negara akan kesulitan melakukan “doxing”, yaitu tindakan menyingkap secara mendalam identitas dan jejak-digital dari seseorang, lembaga, atau kasus yang sedang berjalan.
Sebagus apapun peraturan, negara dan perusahaan penyedia platform memiliki pendirian yang mungkin berseberangan.
Ketika para pelaku kekerasan ini diblokir, mereka sudah punya strategi untuk muncul di akun atau server baru dan lebih “bersemangat”. Ini bagian dari taktik mereka. Dan sekali lagi, mereka tidak sendirian.
Kebencian itu menebar, disengaja, memakai efek jaringan, serta “merasa benar”. Kalau kamu mengerti (bisa dipelajari sebentar) tentang penyembunyian identitas online, kamu akan mengerti, bahwa ada banyak sensor dan pengawasan identitas. Menyalin dan menempel, meninggalkan jejak, serta melakukan penyimpanan sementara, adalah cara kerja internet.
Berharap kepada Negara
Permainan petak-umpet dan perang kebencian ini justru menyulut ketatnya sensor. Satu korban, atau satu kasus muncul, banyak orang di sekitarnya yang harus bekerja.
Tanggung jawab siapa? Mengapa terjadi? Antisipasi apa yang sudah dilakukan? Bagaimana membuat cover story untuk menutupi luka sosial ini? Sudahkah kembali normal? Semua pertanyaan itu melibatkan bukan satu orang, bukan satu lembaga.
Seperti suatu kecelakaan, semua terlibat.
Berharap kepada negara, hasilnya lebih bisa diandalkan, daripada berhadap kepada kebijakan perusahaan penyedia platform (server web, media sosial, dll.).
Yang satu punya tanggung jawab, yang satu punya kilah. Yang satu punya mekanisme sosial untuk ngurus orang, yang satu menganggap apa saja sebagai data, klik, dan keuntungan. Termasuk sentimen negatif. Termasuk kasus yang semakin ramai.
Keuntungan Media [Sosial] dan Nasib Penonton
Keyword bisa menjadi running news. Komentar bisa menjadi kunjungan. Share bisa mengundang komentar lain. Peluang viral tinggi. Keuntungan datang. Memutus jaringan dan meminta konten dihapus, memang efektif. Tidak selamanya itu bisa terjadi dengan mudah dan cepat.
Pikirkan para penonton.
Mereka seperti melihat pemeran beda kostum dengan karakter sama. Mereka seperti melihat orang-orang yang tidak lagi mereka kenal. Mereka seperti melihat “kenyataan lain” yang harus mereka terima tentang apa yang mereka lihat. Mereka melihat kesenjangan, antara kewajiban sosial untuk saling terbuka dan berani berbeda pendapat, ternyata umpatan dan asumsi yang bermain di sana.
Mereka melihat “kebenaran” yang sudah berubah menjadi kebenaran yang hanya bisa diterima dengan pikiran dan perasaan yang sesuai. Yang tidak obyektif lagi. Mereka melihat ini bukan dunia yang nyaman lagi.
Pertarungan tetap berjalan. Sensor tetap berjalan. Tindakan lamban tetap terjadi. Dan para penonton tetap dengan tanda tanya. Penonton yang memiliki hak sama dalam bersuara, memilih diam, untuk tidak memilih apa yang kamu dukung. Hanya karena sikapmu di media sosial.
Yang satu memakai “pelecehan” sebagai metode kampanye, lawannya sudah konsolidasi dan bermanuver politik di luar media sosial. Tertinggal jauh, demi “trending topic“.
Trending topic kadang penuh kepalsuan, bukan suara sebenarnya. Yang tidak palsu adalah kekerasan yang tidak bisa kita biarkan. Mari jalankan Pemilu 2024 yang damai, untuk Indonesia masa depan. [dm]