in

Tergusur Tol Trans Jawa, Lahan SMPN 16 Belum Diganti

SEMARANG (jatengtoday.net) – Rencana pemindahan SMPN 16 Semarang yang sebagian lahannya tergusur untuk pembangunan tol Trans Jawa, hingga sekarang belum dilakukan. Terkesan tidak ada upaya serius untuk melakukan percepatan penyelesaian.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Gunawan Saptogiri mengatakan dari sekian lahan pengganti, ada dua lahan yang diperkirakan sesuai spesifikasi. Dua lahan yang dimaksud adalah lahan di sebelah RS Permata Medika Ngaliyan dan di dekat SMA Negeri 8 Semarang. Namun kedua lahan tersebut belum ditindaklanjuti.

“Kami masih menunggu jawaban balasan dari Satker pelaksana tol. Lahan mana yang dipilih, belum ada jawaban,” katanya, Rabu (1/5/2019).

Dia mengakui kondisi SMPN 16 saat ini kurang kondusif. Pihaknya khawatir hal itu mempengaruhi proses belajar mengajar. “Kami berharap pemindahan SMPN 16 Semarang tersebut segera dilaksanakan,” katanya.

Tak dipungkiri, rencana pemindahan sekolah akibat sebagaian lahannya digunakan untuk proyek pembangunan jalan tol ini berlarut-larut. Kondisi sekarang, lanjutnya, posisi sekolah berada persis di tepi jalan tol. Tentu hal itu membuat proses belajar mengajar tidak kondusif. Bahkan akses masuk utama ke sekolah ditutup, diganti lewat samping.

“Namun demikian, proses Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) beberapa waktu lalu berlangsung lancar,” katanya.

Dijelaskannya, luas lahan keseluruhan milik SMPN 16 Semarang sebelumnya kurang lebih 1 hektare. Dari luasan tersebut separuhnya digunakan untuk proyek pembangunan jalan tol Trans Jawa. Sisa lahan yang ada, kata dia, tidak memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai pengembangan sekolah tersebut. “Karena memang posisinya berdampingan dengan jalan tol. Sehingga tidak ideal untuk digunakan sebagai tempat belajar. Solusinya ya dipindahkan,” katanya.

Pengamat pendidikan, Sudharto, menilai proses perencanaan pembangunan jalan tol Trans Jawa ini tidak dilakukan secara matang. “Saat perencanaan pembangunan, mestinya sudah diketahui permasalahan tersebut. Seharusnya, (SMPN 16) itu dipindah terlebih dahulu,” katanya.

Menurutnya, hal tersebut aneh. Proses pembangunan jalan tol terus berjalan. Sedangkan permasalahan siswa di sekolah tersebut tidak diapa-apakan. “Mestinya sejak awal perencanaan pembangunan tol sudah memikirkan pemindahan sekolah tersebut,” ungkap Mantan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah itu.

Dikatakannya, lingkungan sekolah tidak sekadar sebagai tempat interaksi sosial. Namun, sekolah adalah tempat interaksi edukatif yang diperlukan desain untuk kepentingan peserta didik. “Interaksi edukatif itu hanya bisa berlangsung ketika suasana sekolah memenuhi persyaratan. Jadi kalau melihat kondisi SMPN 16 itu kasihan peserta didiknya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, kata Sudharto, permasalahan tersebut harus segera diselesaikan. Jangan sampai berlarut-larut dan merugikan proses belajar mengajar. “Kalau kegiatan belajar mengajar terganggu, dampaknya bisa berpengaruh pada prestasi siswa,” cetusnya. (*)

editor : ricky fitriyanto