in

Penataan PKL Masih Jadi PR yang Tak Kunjung Selesai

SEMARANG (jatengtoday.net) – Penataan pedagang kaki lima (PKL) di Kota Semarang sejauh ini menjadi pekerjaan rumah (PR) yang tak kunjung usai. Pasalnya hampir setiap periode pemerintahan dipastikan dilakukan penataan PKL. Namun persoalan PKL terbilang sangat kompleks.

Sejumlah ruas terlarang bagi PKL seringkali ditertibkan. Namun tak lama kemudian PKL kembali menjamur. Satpol PP Kota Semarang kerap kewalahan menangani permasalahan PKL tersebut. Persoalannya tidak hanya sekadar menertibkan PKL, namun juga harus diimbangi dengan program dinas lain yang terkait permasalahan PKL.

Mantan Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, saat ini dipercaya menjabat sebagai Kepala Satpol PP Kota Semarang yang baru. Ia bersiap mengemban tugas untuk melakukan penanganan masalah dan penataan PKL tersebut. “Penertiban PKL akan mulai kami lakukan usai lebaran nanti,” katanya, Rabu (22/5/2019).

Pihaknya siap menjalankan tugas agar keberadaan PKL di Kota Semarang lebih rapi dan tertata. Pertama kali, Fajar ingin melakukan penataan PKL di ruas jalan depan RS Telogorejo. “Nanti akan kami atur jam operasionalnya seperti PKL di Taman Indonesia Kaya,” katanya.

Fajar akan melakukan koordinasi dengan Dinas Perdagangan Kota Semarang yang juga pernah ia pimpin. Dia menegaskan, nantinya tidak diperbolehkan ada PKL yang mendirikan tenda permanen di sepanjang pinggir jalan. “Perlu diatur. Boleh buka sore, atau malam. Jika selesai jualan, tenda harus dibongkar. Nanti kami sampaikan bahwa pedagang harus taat aturan. Jika tidak dibongkar, kami akan bongkar,” katanya.

Sedangkan untuk tugas di awal kepemimpinannya tepat di bulan ramadan dan lebaran ini, pihaknya konsen melakukan penertiban terhadap permasalahan sosial yang meresahkan masyarakat. Seperti peredaran miras, pekerja seks komersial (PSK), pengamen jalanan, gelandangan, dan orang terlantar.

“Para pekerja seks komersial seperti di sepanjang Jalan Imam Bonjol hingga Tawang kami tertibkan. Sejauh ini banyak warga mengeluhkan adanya praktik prostitusi,” katanya.

Selain itu, Fajar mengaku juga melakukan penertiban sejumlah baliho tak berizin maupun spanduk liar di tepi jalan. Berbagi ‘sampah visual’ tersebut kerap membuat pemandangan kota menjadi semrawut. “Semua oramg harus tertib aturan agar kota ini menjadi lebih indah,” katanya. (*)

editor : ricky fitriyanto